Matsama sebagai bentuk pengejawantahan visi dan slogan Man 1 Probolinggo: Ahsan, ahli dan santun

Bapak Waka Kurikulum (Taufiqurrahman, M.Pd) sedang mengenalkan kurikulum merdeka kepada peserta didik baru di aula madrasah . Selasa (19/7/2022). Foto: tim humas mansapro.

Pelaksanaan Masa Taaruf Siswa Madrasah (Matsama) MAN 1 Probolinggo memasuki hari kedua (Selasa, 19 Juli 2022) dan akan berakhir besok (Rabu 20 Juli 2022). Dalam sambutannya saat grand opening kemarin, Kepala MAN 1 Probolinggo Muhammad As’adi, M.Pd menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah sebagai langkah awal sekolah dalam melaksanakan misi pendidikan MAN 1 Probolinggo sebagai pengejawantahan dari visi madrasah yang tercermin dari slogan MAN 1 Probolinggo yakni AHSAN (ahli dan santun). “Ahsan asal kata dari bahasa Arab yang artinya lebih baik. Artinya kita yang sekarang harus lebih baik dari yang kemarin dan kita yang akan dating harus lebih baik daripada kita yang sekarang. Ahsan juga akronim dari Ahli dan Santun.

Harapannya siswa dan lulusan MAN 1 Probolinggo bisa ahli dalam segala hal yang mereka pelajari di sekolah ini baik yang berupa pengetahuan maupun yang terapan. Yang penting lagi siswa MAN 1 Probolinggo harus ahli dalam beribadah karena kalian belajar di madrasah. Dan yang tak kalah penting, semua keahlian itu hendaknya dibarengi dengan adab yang baik atau santun”.
Hari kedua Matsama diawali dengan pelaksanaan shalat Dhuha dan doa bersama, pada sesi pertama siswa mendapatkan materi pengenalan Kurikulum Merdeka yang disampaikan oleh Waka Kurikulum Taufiqurrahman, M.Pd. Siswa diperkenalkan dengan lingkungan belajar yang baru, mata pelajaran yang akan mereka pelajari dan sistem pembelajaran yang agak sedikit berbeda dengan fase pendidikan yang mereka jalani sebelumnya.
Pada sesi kedua siswa memperoleh materi tentang pemahaman konsep dan praktik moderasi beragama di Indonesia yang disampaikan oleh Drs. Ahmad Fauzi, M.MPd. Dalam penyampaiannya Guru Bahasa Inggris ini mengatakan bahwa ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian (hate speech), hingga retaknya hubungan antar umat beragama, merupakan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Dengan demikian, adanya pengarusutamaan moderasi beragama dinilai penting. “Moderasi beragama adalah cara pandang kita dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Ada dua bentuk ekstremisme yang berlebihan. Bentuk yang pertama adalah sikap yang sangat kaku dalam beragama, memahami ajaran agama terlalu tekstual dan cenderung mengabaikan penggunaan akal. Dari sinilah kemudian muncul kelompok garis keras yang suka mengafir-kafirkan golongan yang lain yang tidak sepaham. Sementara bentuk yang lain justru sebaliknya, sangat longgar dan bebas dalam memahami sumber ajaran agama. Kebebasan atau liberalisme tersebut tampak pada penggunaan akal yang sangat berlebihan, sehingga menempatkan akal sebagai tolak ukur kebenaran sebuah ajaran.

Liberalisme cenderung menganggap sepele terhadap persoalan akidah atau keimanan. Akibatnya banyak yang kemudian memaksa melakukan rekonstruksi tafsir terhadap nash dan dalil agar bisa sejalan dengan pemikiran mereka yang liberal atau sekuler”. Saat ditemui tim Humas Mansapro, pria yang menjabat sebagai waka sarana prasarana ini mengatakan bahwa beragama secara moderat sudah menjadi karakteristik umat beragama di Indonesia dan lebih cocok untuk kultur masyarakat kita yang majemuk. Beragama secara moderat adalah model beragama yang telah lama dipraktikkan dan tetap diperlukan pada era sekarang agar ekstremisme dan kekerasan atas dasar kebencian kepada agama dan suku yang berbeda bisa ditekan dan dihilangkan. “Moderasi beragama mutlak diperlukan dan diajarkan kepada peserta didik agar menjadi manusia yang mendamaikan, penuh kasih sayang dan toleran dimasa yang akan datang”, ujarnya.
Di sesi terakhir siswa memperoleh bimbingan tentang metode belajar yang baik dan efektif dipandu oleh Drs. Imam Hari Santosa, M.Pd. Tujuan dari sesi ini memandu siswa untuk mengenal lingkungan belajar yang baru dan cara belajar yang cocok dengan karakter mereka. “Ada 9 macam tingkat IQ, dan masing-masing tingkatan berbeda. Bagi anak yang mampu melanjutkan ke jenjang SLTA, IQ mereka setidaknya sudah berada di tingkat ke 5 yang disebut below average atau normal rendah. Umumnya tingkat IQ mereka berada di level 6 atau normal sedang, beberapa di level 7 atau normal tinggi. Jarang yang di tingkat 9 atau Superior”. Lebih jauh guru Kimia ini menambahkan bahwa ada 6 macam kecerdasan: fisual (spasial), verbal (linguistic), logis (matematis), music, intrapersonal, dan interpersonal. “Jadi tidak bisa memaksakan semua anak untuk belajar dengan cara yang sama karena mereka mempunyai ciri khas kecerdasan yang berbeda”. (MF)