Menjadi Nara Sumber di Program KIIS Itjen Kemenag RI ke 83, Kepala MAN 1 Probolinggo menegaskan semua bidang studi dan seluruh kegiatan di madrasah hendaknya dijiwai oleh nilai-nilai moderasi beragama.

Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI kembali menyelenggarakan Program Kreatif Inspiratif Inovatif Solutif (KIIS) – ASN seri ke 83 pada hari Rabu 8 Juni 2022 secara virtual melalui zoom meeting dan live streaming YouTube Itjen Kemenag RI. Acara yang tayang secara rutin setiap hari Rabu pukul 09.00-10.30 WIB ini kali ini menggandeng Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, dan MAN 1 Probolinggo.
Kegiatan yang bertema ASN Integritas dan Penguatan Program Moderasi Beragama di Madrasah ini menghadirkan tiga narasumber: Akhmad Sruji Bahtiar Kepala Kankemenag Kab. Probolinggo, M. Noor Khozin Auditor Itjen Kemenag RI, dan Syaiful Abdi Kepala MAN 1 Probolinggo.
Dalam kesempatan ini Nurul Badruttaman selaku pemantik kegiatan, juga menghadirkan Maman Saefulloh Inspektur Wilayah I Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI selaku keynote speaker, dengan host Ayu Putri Andayana Humas Kankemenag Kab. Probolinggo dan Mamik Indriyani MAN 1 Probolinggo.
Sebagai pembicara ketiga, Kepala MAN 1 Probolinggo Syaiful Abdi di awal pemaparannya yang bertajuk Implementasi Moderasi Beragama di Madrasah mengungkapkan harapan agar nilai-nilai moderasi beragama bisa masuk ke semua lini di komunitas pendidikan yang meliputi pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, stake holder, dan masyarakat pengguna.
“ Landasan hukum dari pelaksanaan moderasi beragama di madrasah adalah Keputusan Dirjend Pendidikan Islam No.7272 tahun 2019 tentang pedoman implementasi moderasi beragama pada Pendidikan Islam”, jelasnya.
Lebih lanjut pria kelahiran Pamekasan Madura ini menyebutkan tiga strategi dalam rangka membumikan nilai-nilai moderasi beragama di madrasah khususnya kepada peserta didik.
Strategi yang pertama adalah INSERSI yakni menyisipkan muatan moderasi beragama dalam setiap materi pelajaran yang relevan. Tidak khusus pada mapel agama tetapi pelajaran umum juga seperti mapel PPKn, Sejarah dsb. Oleh sebab itu, tenaga pendidik diharapkan memiliki pemahaman yg utuh tentang moderasi beragama.
Strategi yang kedua adalah OPTIMALISASI artinya dalam kegiatan pembelajaran hendaknya mengoptimalkan penggunaan metode dan pendekatan-pendekatan yang dapat memotivasi siswa untuk berpikir kritis, bersikap menghargai perbedaan, menghargai pendapat orang lain, toleran, demokratis, berani menyampaikan gagasan, sportif dan bertanggung jawab.
“Jadi tidak semua muatan moderasi beragama harus diwujudkan dalam bentuk materi pelajaran tetapi bisa juga dalam bentuk pemilihan metode dan pendekatan dalam pembelajaran. Contoh guru Bahasa Indonesia bisa menggunakan metode tertentu seperti diskusi untuk melatih siswa berpikir kritis, bersikap menghargai perbedaan, menghargai pendapat orang lain, toleran, demokratis, berani menyampaikan gagasan, sportif dan bertanggung jawab” lanjutnya.
Strategi yang ketiga adalah PENYELENGGARAAN PROGRAM bisa dalam bentuk pendidikan, pelatihan dan pembekalan tertentu dengan tema khusus tentang moderasi beragama.
“Kalau di madrasah kita biasa mengadaan kegiatan Matsama (masa taaruf siswa madrasah) setiap tahun ajaran baru. Dalam kegiatan ini bisa digunakan tema tentang moderasi beragama misalnya tentang ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah basyariyah”
Terakhir lulusan S2 UIN Malang ini menegaskan bahwa muatan moderasi beragama di madrasah tidak perlu menjadi mata pelajaran khusus melainkan bisa menjadi hidden curriculum di satuan pendidikan dimana semua bidang studi dan seluruh kegiatan serta aktifitas di madrasah dijiwai oleh nilai-nilai moderasi beragama. (MF)